Rabu, 21 April 2010

PROFIL KELOMPOK KAPITA SELEKTA
Fakultas Ilmu Komunikasi
Universitas Tarumanagara
Kelas A
2010




























Atas ( Kiri - Kanan ) : Okky Wijaya 915060003, Kelvin 915060006, Verdi Sukeiri 915060031

Bawah ( kiri - Kanan ) : Firmansyah 915060033, R.M.M Achdiyatma Reza 915062003, Martinus Wijaya 915069009


** MATERI PERTEMUAN I - IV di halaman pertama
** MATERI PERTEMUAN V - VII di halaman kedua ( Klik "posting lama")

Pertemuan I - Psikologi Massa



PSIKOLOGI MASSA
( Oleh Ibu Henny Wirawan)

* Dibuat oleh Firmansyah 915060033 *

PENGERTIAN

Psikologi adalah ilmu tentang perilaku dan proses mental. Massa dapat diartikan sebagai bentuk kolektivisme (kebersamaan). Oleh karena itu psikologi massa akan berhubungan perilaku yang dilakukan secara bersama-sama oleh sekelompok massa. Fenomena kebersamaan ini diistilahkan pula sebagai Perilaku Kolektif (Collective Behavior)

Dalam perilaku kolektif, seseorang atau sekelompok orang ingin melakukan perubahan sosial dalam kelompoknya, institusinya, masyarakatnya. Tindakan kelompok ini ada yang diorganisir, dan ada juga tindakan yang tidak diorganisir. Tindakan yang terorganisir inilah yang kemudian banyak dikenal orang sebagai gerakan social (Social Movement).

Perilaku kolektif yang berupa gerakan sosial, seringkali muncul ketika dalam interaksi sosial itu terjadi situasi yang tidak terstruktur, ambigious (ketaksaan/ membingungkan), dan tidak stabil.

Reicher & Potter (1985) mengidentifikasi adanya lima tipe kesalahan mendasar dalam psikologi tentang kerumunan (perilaku massa) di masa lalu dan masa kini. Kesalahan-kesalahan itu, meliputi yaitu: (1) abstraksi tentang episode kerumunan bersumber dari konflik antar-kelompok, (2) kegagalan untuk menjelaskan proses dinamikanya, (3) terlalu dibesar-besarkannya anonimitas keanggotaannya, (4) kegagalan memahami motif anggota kerumunan, dan (5) selalu menekankan pada aspek negatif dari kerumunan.

Reicher (1987), Reicher & Potter (1985) selama ini melihat adanya dua (2) bentuk bias dalam memandang teori kerumunan (crowds) yaitu bias politik dan bias perspektif. Bias politik terjadi karena teori kerumunan disusun sebagai usaha mempertahankan tatanan sosial dari mob dan tindakan kerumunan selalu dipandang sebagai konflik sosial. Sementara itu bias perspektif terjadi karena para ahli hanya berperan sebagai orang luar (outsider) yang hanya mengamati masalah tersebut. Akibatnya, terjadi kesalahan dalam memandang tindakan kerumunan secara objektif.


KONDISI-KONDISI PEMBENTUK PERILAKU MASSA

Neil Smelser mengidentifikasi beberapa kondisi yang memungkinkan munculnya perilaku kolektif , diantaranya:

1. Structural conduciveness: beberapa struktur sosial yang memungkinkan munculnya perilaku kolektif, seperti: pasar, tempat umum, tempat peribadatan, mall, dst

2. Structural Strain: yaitu munculnya ketegangan dlam masyarakat yang muncul secara tersturktur. Misalnya: antar pendukng kontestan pilkada.

3. Generalized beliefs : share interpretation of event

4. Precipitating factors: ada kejadian pemicu (triggering incidence). Misal ada pencurian, ada kecelakaan, ada

5. Mobilization for actions: adanya mobilisasi massa. Misalmya : aksi buruh, rapat umum suatu ormas, dst

6. Failure of Social Control – akibat agen yang ditugaskan melakukan kontrol sosial tidak berjalan dengan baik.


MACAM-MACAM BENTUK PERILAKU KOLEKTIF

A. CROWD (KERUMUNAN)

Secara deskriptif Milgram (1977) melihat kerumunan (crowd) sebagai 1. Sekelompok orang yang membentuk agregasi (kumpulan), 2. Jumlahnya semakin lama semakin meningkat, 3. Orang-orang ini mulai membuat suatu bentuk baru (seperti lingkaran),4. Memiliki distribusi diri yang bergabung pada suatu saat dan tempat tertentu dengan lingkaran (boundary) yang semakin jelas, dan 5. Titik pusatnya permeable dan saling mendekat.

Ada beberapa bentuk kerumunan (Crowd) yang ada dalam masyarakat:

1. Temporary Crowd : orang yang berada pada situasi saling berdekatan di suatu tempat dan pada situasi sesaat

2. Casual Crowd : sekelompok orang yang berada di ujung jalan dan tidak memiliki maksud apa-apa

3. Conventional Crowd : audience yang sedang mendengarkan ceramah

4. Expressive Crowd: sekumpulan orang yang sedang nonton konser musik yang menari sambilsesekali ikut melantunkan lagu

5. Acting Crowd atau rioting crowd : sekelompok massa yang melakukan tindakan kekerasan

6. Solidaristic Crowd: kesatuan massa yang munculnya karena didasari oleh kesamaan ideologi

B. MOB :

Adalah kerumunanan (Crowds) yang emosional yang cenderung melakukan kekerasan/penyimpangan (violence) dan tindakan destruktif. Umumnya mereka melakukan tindakan melawan tatanan sosial yang ada secara langsung. Hal ini muncul karena adanya rasa ketidakpuasan, ketidakadilan, frustrasi, adanya perasaan dicederai oleh institusi yang telah mapan atau lebih tinggi. Bila mob ini dalam skala besar, maka bentuknya menjadi kerusuhan massa. Mereka melakukan pengrusakan fasilitas umum dan apapun yang dipandang menjadi sasaran kemarahanannya.

C. PANIC

Adalah bentuk perilaku kolektif yang tindakannya merupakan reaksi terhadap ancaman yang muncul di dalam kelompok tersebut. Biasanya berhubungan dengan kejadian-kejadian bencana (disaster). Tindakan reaksi massa ini cenderung terjadi pada awal suatu kejadian, dan hal ini tidak terjadi ketika mereka mulai tenang. Bentuk lebih parah dari kejadian panik ini adalah Histeria Massa. Pada histeria massa ini terjadi kecemasan yang berlebihan dalam masyarakat. misalnya munculnya isue tsunami, banjir.

D. RUMORS

Adalah suatu informasi yang tidak dapat dibuktikan, dan dikomunikasikan yang muncul dari satu orang kepada orang lain (isu sosial). Umumnya terjadi pada situasi dimana orang seringkali kekurangan informasi untuk membuat interpretasi yang lebih komprehensif. Media yang digunakan umumnya adalah telepon.

E. OPINI PUBLIC

Adalah sekelompok orang yang memiliki pendapat beda mengenai sesuatu hal dalam masyarakat. Dalam opini publik ini antara kelompok masyarakat terjadi perbedaan pandangan / perspektif. Konflik bisa sangat potensial terjadi pada masyarakat yang kurang memahami akan masalah yang menjadi interes dalam masayarakat tersebut. Contoh adalah adanya perbedaan pendangan antar masyarakat tentang hukuman mati, pemilu, penetapan undang-undang tertentu, dan sebagainya. Bentuknya biasanya berupa informasi yang beda, namun dalam kenyataannya bisa menjadi stimulator konflik dalam masyarakat.

F. PROPAGANDA

Adalah informasi atau pandangan yang sengaja digunakan untuk menyampaikan atau membentuk opini publik. Biasanya diberikan oleh sekelompok orang, organisasi, atau masyarakat yang ingin tercapai tujuannya. Media komunikasi banyak digunakan untuk melalukan propaganda ini. Kadangkala juga berupa pertemuan kelompok (crowds).Penampilan dari public figure kadang kala menjadi senjata yang ampuh untuk melakukan proraganda ini.


HUBUNGAN ANTARA PERILAKU MASSA DENGAN AGRESI

Banyak pandangan yang menyatakan bahwa perilaku kolektif berkatian erat dengan tindakan agresi / kekerasan. Bahkan sejumlah studi banyak dilakukan untuk melihat pengaruh berkumpulnya orang dalam massa terhadap kekerasan yang ditimbulkannya. Pendekatan keamanan selama ini juga selalu memandang bahwa adanya kumpulan orang selalu disikapi sebagai bentuk potensi konflik, dan kadangkala tindakan antisipasi yang dilakukannya sangat berlebihan. Ciri penting yang harus dipahami petugas apakah kumpulan dapat mengakibatkan potensi konflik?

1. Apakah terjadi kebangkitan emosi (arousal) massa yang sangat signifikan? Bila mereka sangat antusias dengan yel-yel dan gerakan yang menyinggung harga diri kelompok maka perlu dibutuhkan upaya kesabaran namun waspada.

2. Apakah ada stimulator / pemicu dari lingkungan yang membahayakan? Alat agresi apakah muncul dalam kerumunan massa tu. Batu, pentungan, senjata tajam, dll, sangat mendorong munculnya kekerasan.

3. Apakah ada provokator yang terorganisir?Provokator selalu menyemangati para anggota kelompoknya untuk tetap melakukan tindakan demonstrasi.

4. Apakah situasinya panas atau hujan? Situasi panas dapat membuat situasi tidak nyaman, dan situasi ini dapat mudah menyulut kekerasan.

5. Apakah munculnya sesaat atau bersifat kronis? Perilaku kolektif yang munculnya sesaat umumnya tidak menimbulkan agresi, terkecuali memang sudah ada konflik didalamnya.

6. Adakah keberpihakan dalam perilaku kolektif ?Konsep ini muncul dari adanya pemahamana bahwa bila ada dua kelompok atau lebih yang sedang berkompetisi, maka mereka akan saling berusaha untuk mengalahkan yang lain

7. Adakah motif dasar yang melatarbelakangi munculnya perilaku kolektif?Perilaku kolektif akan menjadi sangat berbahaya apabila dalam kolektivitasnya itu dipicu oleh masalah kebutuhan pokok.

8. Apakah ada organisasi yang mensponsori? Kekerasan akan semakin meningkat konstelasinya apabila ada dukungan sponsorship yang kuat, sehingga perilaku kolektif ini akan berlangsung lama. Oleh karena itu, kesiapan logistik yang cukup harus dilakukan dan dicarinya upaya strategi yang tepat untuk mengatasinya.


TEORI-TEORI PERILAKU KOLEKTIF

Dalam tulisan ini, ada tiga teori yang seringkali digunakan untuk menjelaskan kejadian perilaku massa. 1. Social Contagion Theory (Teori Penularan sosial) menyatakan bahwa orang akan mudah tertular perilaku orang lain dalam situasi sosial massa. mereka melakukan tindakan meniru/imitasi. 2. Emergence Norm Theory: menyatakan bahwa perilaku didasari oleh norma kelompok, maka dalam perilaku kelompok ada norma sosial mereka yang akan ditonjolkannya. Bila norma ini dipandang sesuai dengan keyakinannya, dan berseberangan dengan nilai / norma aparat yang bertugas, maka konflik horizontal akan terjadi.3. Convergency Theory: menyatakan bahwa kerumunan massa akan terjadi pada suatu kejadian dimana ketika mereka berbagi (convergence) pemikiran dalam menginterpretasi suatu kejadian. Orang akan mengumpul bila mereka memiliki minat yang sama dan mereka akan terpanggil untuk berpartisipasi 4. Deindivuation Theory, menyatakan bahwa ketika orang dalam kerumunan, maka mereka akan ”mneghilangkan” jati dirinya, dan kemudian menyatu ke dalam jiwa massa.


BAGAIMANA CARA MENYIKAPI PERILAKU MASSA

1. Memahami bentuk perilaku kolektif

2. Memahami motif perilaku kolektif

3. Perencanaan penyelesaian yang matang

4. Kesiaan mental petugas

5. Pengendalian diri yang baik

6. Keberanian dalam bersikap


KESIMPULAN

Pendekatan yang mana yang harus ditempuh, apakah pendekatan keamanan atau pendekatan humanisme? Paduan antara keduanya akan lebih tepat daripada hanya mengandalkan salah satunya. Karena sampai saat ini tidak satupun kerumunan dapat diprediksi apakah akan terjadi kerusuhan massa ataukah tetap damai. Dengan manggabungkan dua pendekatan diatas, yaitu pendekatan keamanan dan pendekatan humanisme dan pendekatan keamanan akan memperbesar peluang kita sebagai masyarakat untuk menjaga kedamaian.



Pertemuan II - Gender


GENDER
( Oleh Ibu Henny Wirawan )

* Dibuat oleh Kelvin 915060006 *


Gender dan seks adalah dua istilah yang pada dasarnya kita anggap sama tapi pada pengertiannya sebenarnya berbeda. Wanita dan Pria dikategorikan ke dalam seks sedangkan Feminine dan Maskulin lebih mengacu pada gender. Ada variabilitas yang besar berkenaan gaya komunikasi antara laki dan perempuan yakni feminis dengan maskulinitas. Sex adalah fakta yang kelihatan secara biologis sedangkan Gender sendiri merupakan gagasan dari struktural kehidupan sosial.

Hubungan antara gender dan sex :

1. Secara Biological klasifikasi sex merujuk pada perempuan dan laki-laki,sedangkan seseorang tidak dilahirkan dari gender.

2. Gender terpisah dengan apa yang telah di bangun masyarakat berbeda sekali dengan sex yang semuanya adalah unsur biologis.

3. Kita sering memakai sebuah istilah gender yang telah diberikan oleh budaya kita yang didasarkan oleh sex kita.

4.Sex adalah sesuatu yang permanen berbeda dengan gender yang bisa berubah lebih kuat atau lebih lemah sesuai dengan penempatan ataupun proses belajar dalam sebuah dinamika sosial.

5. Sex bisa dikatakan merupakan properti individual dan gender merupakan definisi sex secara kultural.

6. Kebudayaan menentukan arti sex yang kemudian menempatkannya menjadi kualitas,aktivitas dan identitas sedangkan gender di dalam kebudayaan mempengaruhi pola berkomunikasi dan tata berprilaku.

7. Didalam budaya kita mempersepsikan bahwa perempuan akan menjadi feminin dan laki-laki akan menjadi maskulin walaupun sebenarnya belum tentu benar.


Dalam pembahasan mengenai gender dan komunikasi, Griffin menyadur tiga buah pemikiran sebagai berikut: Genderlect Styles (dari Deborah Tannen); Standpoint Theory (dari Sandra Harding dan Julia Wood); dan Muted Group Theory (dari Cheris Kramarae).


1. Genderlect Styles (dari Deborah Tannen).

Deborah Tannent mendiskripsikan ketidakmengertian (misunderstanding) antara laki-laki dan perempuan berkenaan dengan fakta bahwa fokus pembicaraan perempuan adalah koneksitas, sementara laki-laki pada pelayanan status dan kemandiriannya.

Genderlect Styles membicarakan gaya bicara bukan tentang apa yang dikatakan tetapi bagaimana menyatakannya. Tanent meyakini bahwa terdapat gap antara laki-laki dan perempuan, dikarenakan masing-masing berada pada posisi lintas budaya (cross culture), untuk itu perlu mengantisipasi berkenaan dengan gap itu. Kegagalan mengamati perbedaan gaya berbicara dapat membawa masalah yang besar.

Perbedaan-perbedaan itu terletak pada:

· Kecenderungan feminis versus maskulin, hal ini harus dipandang sebagai dua dialek yang berbeda. Antara superior dan inverior dalam pembicaraan. Komunitas feminis untuk membangun hubungan, menunjukkan responsif. Komunitas maskulin lebih pada menyelesaikan tugas, menyatakan diri, mendapatkan kekuasaan.

· Perempuan berhasrat pada koneksi sedangkan laki-laki berhasrat untuk status. Koneksi berhubungan erat dengan kedekatan, status berhubungan erat dengan kekuasaan (power).

· Raport talk versus report talk. Perbedaan budaya linguistik berperan dalam menstruktur kontak verbal antara laki-laki dan perempuan. Raport talk adalah istilah yang digunakan untuk menilai obrolan perempuan yang cenderung terkesan simpatik. Report talk adalah istilah yang digunakan menilai obrolan laki-laki yang cenderung apa adanya, pokoknya sampai pada intinya.

Berkenaan dengan kedua nilai ini, Tanent menemukan temuan-temuan yang dikategorikan sebagai berikut:

a. Publik speaking versus private speaking, dalam kategori ini diketemukan bahwa perempuan lebih banyak bicara pada pembicaraan pribadi. Sedangkan laki-laki lebih banyak terlibat pembicaraan publik, laki-laki menggunakan pembicaraan sebagai pernyataan fungsi perintah, menyampaikan informasi, meminta persetujuan.

b. Telling story, cerita-cerita menggambarkan harapan-harapan, kebutuhan- kebutuhan, dan nilai-nilai si pencerita. Pada kategori ini laki-laki lebih banyak bercerita dibanding perempuan khususnya tentang guyonan. Cerita guyonan merupakan suatu cara maskulin menegosiasikan status.

c. Listening, perempuan cenderung menjaga pandangan, sering manggut, berguman sebagai penanda ia mendengarkan dan menyatakan kebersamaannya. Laki-laki dalam hal mendengarkan berusaha mengaburkan kesan itu sebagai upaya menjaga statusnya.

d. Asking questions, ketika ingin bicara untuk menyela pembicara, perempuan terlebih dahulu mengungkapkan persetujuan. Tanent menyebutnya sebagai kooperatif,sebuah tanda raport simpatik daripada kompetitif. Pada laki-laki, interupsi dipandang oleh Tanent sebagai power-kekuasaan untuk mengendalikan pembicaraan. Dengan kata lain, pertanyaan dipakai oleh perempuan untuk memantapkan hubungan, juga untuk memperhalus ketidaksetujuan dengan pembicara, sedangkan laki-laki memakai kesempatan bertanya sebagai upaya untuk menjadikan pembicara jadi lemah.

e. Conflict, perempuan memandang konflik sebagai ancaman dan perlu dihindari. Laki-laki biasanya memulai konflik namun kurang suka memeliharanya.


2. Standpoint Theory (dari Sandra Harding dan Julia Wood).

Sandra harding dan Julia Wood sepakat bahwa laki-laki dan perempuan mempunyai perspektif terpisah, dan mereka tidak memandangnya sebagai sesuatu yang setara. Lokasi-lokasi yang berbeda dalam hirarki sosial mempengaruhi apa yang dilihat. Mereka beranggapan bahwa perempuan dan minoritas yang lainnya mempersepsi dunia secara berbeda daripada kelompok yang berkuasa.

Standpoint merupakan tempat dari mana melihat pemandangan dunia, apapun sudut pandangnya. Sinonim dari istilah ini adalah perspektif; view point, out look; dsb.

Gender adalah sistem makna, sudut pandang melalui posisi dimana kebanyakan laki-laki dan perempuan dipisahkan secara lingkungan, material, simbolis.


3. Muted Group Theory (dari Cheris Kramarae).

Berdasarkan analisis feminis, Cheris Kramarae memandang pembicaraan laki-laki dan perempuan sebagai pertukaran yang tidak setara antara mereka yang mempunyai kekuasaan di masyarakat dan yang tidak. Ia meyakini bahwa kurang bisanya mengartikulasikan diri/memperjuangkan diri dibanding laki-laki di sector public- sebab kata dalam bahasa dan norma-norma yang mereka gunakan itu telah dikendalikan laki-laki. Sepanjang pembicaraan perempuan sebagai tentatif dan sepele, posisi dominan laki-laki aman. Kramarae yakin bahwa kebisuan perempuan itu cenderung menipis, kontrol mereka dalam kehidupan kita akan meningkat.
Cheris Kramarae (dalam Sendjaja:1994) mengemukakan asumsi-asumsi dasar dari teori ini sebagai berikut:

* Perempuan menanggapi dunia secara berbeda dari laki-laki karena pengalaman dan aktivitasnya berbeda yang berakar pada pembagian kerja.
* Karena dominasi politiknya, sistem persepsi laki-laki menjadi lebih dominan, menghambat ekspresi bebas bagi pemikiran alternatif perempuan.
* Untuk dapat berpartisipasi dalam masyarakat, perempuan harus mengubah perspektif mereka ke dalam sistem ekspresi yang dapat diterima laki-laki.


Kramarae mengemukakan sejumlah hipotesis mengenai komunikasi perempuan berdasarkan beberapa temuan penelitian.

a) Perempuan lebih banyak mengalami kesulitan dalam mengekspresikan diri dibanding laki-laki.

b) Perempuan lebih mudah memahami makna laki-laki daripada laki-laki memahami makna perempuan.

c) Perempuan telah menciptakan cara-cara ekspresinya sendiri di luar sistem laki-laki yang dominan.

d) Perempuan cenderung untuk mengekspresikan lebih banyak ketidakpuasan tentang komunikasi dibanding laki-laki.

e) Perempuan seringkali berusaha untuk mengubah aturan-aturan komunikasi yang dominan dalam rangka menghindari atau menentang aturan-aturan konvensional.

f) Secara tradisional perempuan kurang menghasilkan kata-kata baru yang populer dalam masyarakat luas; konsekuensinya, mereka merasa tidak dianggap memiliki kontribusi terhadap bahasa.
g) Perempuan memiliki konsepsi humoris yang berbeda dari pada laki-laki.



Di bawah ini ada beberapa perbedaan gender menurut Deborah Tannen:

1. Ada kecenderungan orang maskulin untuk berbicara lebih banyak di muka umum daripada feminine, tapi orang feminin akan berbicara lebih banyak dari orang maskulin di rumah.

2. Orang Feminim cenderung melakukan kontak mata dan mengeluarkan intonasi seperti mengiyakan dan setuju sedangkan maskulin cenderung mengalihkan pandangan dan diam.

3. Orang Maskulin cenderung untuk melompat dari topik ke topik, tapi orang feminin selalu berbicara panjang lebar tentang satu topik.

4. Feminin lebih suka menyatakan persetujuan sedangkan maskulin menyukai perdebatan.



KESIMPULAN

Pada dasarnya gender merupakan sebuah tatanan prilaku psikologi yang mempengaruhi komunikasi dan kebiasaan yang tidak bisa begitu saja disamakan dengan sex. Gender mengacu pada sikap/pola prilaku feminine dan masculine. Dimana merupakan sebuah sosialisasi dalam dinamika kehidupan ini. Seseorang yang mampu berada di titik tengah feminin dan maskulin adalah pribadi yang paling kompeten dalam interaksi sosial.

Pertemuan III - Kepemimpinan & Komunikasi


KEPEMIMPINAN DAN KOMUNIKASI

* Dibuat oleh R.M.M Achdiyatma Reza 915062003 *



Neurologi Kepemimpinan
Didalam setiap otak yang ada pada manusia, terdapat bagian-bagian yang mengatur emosi, soft skill, serta skill of knowledge. Lebih dalam lagi, otak dibagi menjadi dua bagian yaitu otak kiri dan kanan. Otak kiri fungsinya diantaranya mengatur Pemikiran analistik, logika, bahasa, sains dan matematik sedangkan otak kanan berfungsi untuk mengatur Pemikiran holistik, dan seni. Kepemimpinan sendiri mempunyai arti proses mempengaruhi aktivitas kelompok untuk menentukan tujuan dan mencapainya.

Seorang pemimpin tentunya harus bisa membawa kelompoknya ke arah tujuan dari kelompok tersebut. Berkaitan dengan hal itu, seorang pemimpin dalam menjalankan kepemimpinan tentunya tidak bisa lepas dari aspek komunikasi. Bisa diambil contoh disini adalah Presiden dari sebuah negara, bagaimana seorang Presiden menggunakan teknik-teknik komunikasi untuk menjalankan kepemimpinan di dalam suatu negara. Ambil contoh misalnya Presiden Amerika Serikat, Barrack Obama. Beliau merupakan orang yang memiliki sifat persahabatan, dan seorang aktivis.

Barrack Obama mempunyai gaya kepemimpinan sendiri, sebenarnya ada beberapa macam gaya kepemimpinan diantaranya :

1.Visioner
Gaya ini menitikberatkan kepada bagaimana seorang pemimpin untuk mengarahkan pengikutnya ke arah tujuan bersama.

2.Pembimbing
Gaya ini lebih ke arah bagaimana membangun hubungan baik dengan organisasinya.

3.Afiliatif
Gaya ini lebih menciptakan suasana yang kondusif dan membuat orang-orang yg berada dibawah pemimpinnya itu merasa nyaman untuk bersama-sama mencapai tujuannya.

4.Demokratis
Gaya ini bersifat demokrasi yaitu bisa menerima kritk dan masukan orang lain untuk kemajuan bersama.

5.Otoriter
Gaya ini mengedepankan penekanan kekuasaan dan mengekang kebebasan dari individu yang ada.


Jadi, untuk menjadi pemimpin yang baik, tentunya bisa memiliki apa yang disebut dengan kecerdasan diri dan emosi. Bisa dilihat dari bagaimana kita mengelola diri, menunjukkan kejujuran, mengatur emosi supaya jangan meledak ledak, tahu langkah yang diambil dan siap untuk bertindak. Kemudian adalah bagaimana kita mengetahui kompetensi pribadi. Setelah itu mengetahui kompetensi sosial yaitu bagaimana kita menjalin hubungan yang baik dengan orang lain. Apabila ada yang mengalami kesulitan, kita bersedia untuk membantu. Selanjutnya adalah bagaimana kita bisa mempertahankan hubungan yang udah ada untuk memberikan semangat motivasi untuk kearah tujuan yang sama di dalam organisasi tersebut.